Membantah Syubhat Ahmadiyah II
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya (Beberapa Bantahan Syubhat Ahmadiyah). Setelah saya menyadari bahwa ada syubhat yang belum saya bahas pada tulisan saya sebelumnya, maka saya mencoba kembali untuk menuliskan sedikit bantahan. Beberapa hari yang lalu juga masuk komentar dari Nasir Ahmad, dan saya membuat tulisan tersendiri mengenai bantahan komentar-komentar beliau dikarenakan panjang pembahasannya. Ada beberapa komentar Nasir Ahmad yang saya kira tidak perlu untuk dibantah karena bantahan-bantahan di bawah ini sudah cukup bagi kita yang mencari kebenaran, namun jika Nasir Ahmad menghendaki bantahannya, maka saya insya Allah akan berusaha untuk menuliskan bantahannya bi iznillah insya Allah.
Pembahasan mengenai Ahmadiyah merupakan pembahasan yang panjang, dan tidak selesai dengan hanya 1 dan 2 risalah kemudian selesai. Banyak sekali syubhat dan kejanggalan yang perlu dibahas (salah satunya adalah mengenai kitab tadzkirah karangan mirza yang membajak kitab suci umat islam (Al-Qur’an), dan itu membutuhkan waktu yang panjang dan cukup melelahkan).
Pesan saya kepada Nasir Ahmad dan Ahmadi yang lainnya agar membaca dengan cermat, dan ambillah kebenaran dari dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits Rasul yang saya paparkan. Jika kalian mencintai Rasulullah shollahu’alaihiwasallam ambillah perkataan beliau, dan buanglah ucapan sang pendusta mirza ghulam ahmad al-kazzab yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Siapakah yang paling kalian cintai, Rasulullah atau mirza?
Saya tahu doktrin Ahmadiyah sudah melekat pada diri anda, dan saya hanya bisa berdo’a kepada Allah yang membolak-balikkan hati agar kalian mendapatkan hidayatut taufiq dari-Nya dan saya berlindung kepada Allah dari syubhat-syubhat yang menyambar-nyambar ke dada dan menembus ke hati.
Berikut komentar dari Nasir Ahmad terhadap tulisan saya sebelumnya beserta bantahan saya (Ibnu Munzir) terhadap komentar-komentar beliau tersebut :
IBNU MUNZIR :
Berikut bantahan saya :
Para sahabat rasul adalah orang yang paling fasih bahasa arabnya dan pengaruh ‘ajam belum masuk pada waktu itu, dan tidak ada satupun diantara para sahabat yang memaknai “khootaman nabiyyin” dengan arti yang macam-macam, bahkan orang-orang munafik dan orang-orang kafirpun pada zaman itu tidak ada yang mengingkari bahwa arti “khootaman nabiyyin” (lihat surah al-ahzab ayat 40) adalah “PENUTUP NABI-NABI”. Hanya orang-orang bodoh (jahil murokkab) dan para pengekor hawa nafsu sajalah yang mengartikan selain itu. Siapa yang lebih fasih bahasa arabnya, para sahabat rasul atau mirza al-kazzab yang orang india itu yang hidup beberapa abad setelah masa sahabat ???.
JAWABAN NASIR AHMAD :
Wah hebat juga analisa anda ya? cuma sayang, dari jawaban anda saja sudah nampak kurangnya wawasan anda. Sebaiknya jangan main ejek dulu kalau belum saya jawab, seolah2 anda yang paling tahu. Ini saya beri satu tambahan pengetahuan buat anda.
Berikut atsar dari Siti aisyah ra mengenai khatamannabiyyin :
“Quu luu Innahu Khatamannabiyyin wala taquu luu La nabiyya Ba’dahu”
Artinya : “Katakanlah bahawa ia (muhammad) khatamannabiyyin, dan janganlah kamu katakan tidak ada nabi sesudahnya” (Durrun Mantsur jilid V hal.204, Takmilah Majmaul Bihar hal.5)Sekali lagi saya sarankan untuk banyak membaca buku, bukankah anda ini punya back ground pendidikkan agama? Kalau dalil di atas masih kurang akan saya tambah lagi !!
BANTAHAN SAYA (IBNU MUNZIR) :
Atsar tersebut tidak ada asalnya (laa ashla lahu), mana sanadnya? Sebutkan urutan perawi yang menghubungkannya dengan matan atsar tersebut!, sebutkan apakah ada ulama-ulama kibar yang membawakan atsar tersebut pada kitab-kitab mereka?! Apakah Bukhori, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad, Syaikhul Islam, Ibnu Hajar atau yang lainnya??!. Kitab Durrun Mantsur yang anda kutip, kitab siapakah itu?, Takmilah Majmaul Bihar kitab siapakah??. Saya katakan kepada anda bahwa andalah yang harus banyak membaca, andalah yang harus membuka pikiran anda agar tidak terkungkung dengan doktrin-doktrin ahmadiyah, agar anda tidak hanya membebek pada pendapat ulama-ulama anda saja!.
Saya katakan kepada anda wahai Nasir, bahwa background pendidikan saya adalah ekonomi dan bukan dari agama seperti sangkaan anda.
Saya bawakan Hadist Nabi shallallahu’alaihiwasallam akan tetapi anda bantah dengan atsar ‘aisyah rhodiallahu’anha, bagaimana ini? Apakah metodologi anda sudah benar?
Atsar yang tidak ada asal-usul yang anda bawakan tersebut merupakan FITNAH yang keji terhadap ummul mu’minin ‘Aisyah rhodiallahu’anha!. SEANDAINYA atsar tersebut benar (seandainya lho…) maka hal tersebut bertentangan dengan banyak Hadits Nabi, dan Hadits Nabi yang paling pantas untuk didahulukan dan dibenarkan dibandingkan ucapan semua mahluk!. Dan sekali lagi… ini hanya pengandaian saja…
Mas, Ilmu Mustholahul Hadits, ilmu Ushul Tafsir dan Ushul Fiqh itu penting sekali dalam berdalil, sehingga anda tidak bisa seenaknya membawakan dalil yang laa ashla lahu (tidak ada asal-usulnya), jika sebuah riwayat yang terkena vonis laa ashla lahu, maka kedudukannya lebih parah dibandingkan dengan Hadits Maudhu.
IBNU MUNZIR :
Tiap-tiap makna kata dalam nash Al-qur’an dan Hadits harus dimaknai secara syar’i. Sebagai contoh, kata “sholat” jika dimaknai secara bahasa adalah do’a tapi jelas tiap disebutkan kata sholat dalam nash mesti yang dimaksud adalah makna sholat secara syar’i. Kata “wudhu” jika dimaknai secara bahasa adalah bersih-bersih, tapi apakah demikian saja dimaknai? tidak… makna wudhu tersebut haruslah dibawa ke makna syar’i dari wudhu itu sendiri. Serta banyak contoh-contoh lainnya yang menunjukkan adanya perbedaan makna secara bahasa dan secara syar’i.
JAWABAN NASIR AHMAD :
Saya tantang anda, jika dapat menunjukan contoh penggunaan kata khatam yang digabung dengan isim jamak di dalam literatur arab yang artinya adalah “Penutup” . Jangan suka ngarang…
TANGGAPAN SAYA :
Anda kok getol banget membahas masalah “Khatam”, nanti saya bahas…
IBNU MUNZIR :
Jika anda menghendaki lafaz tersebut harus berwazan “faa’ilun” yang berarti “khootimun”. Saya bawakan Hadits yang mematahkan syubhat anda tersebut :
Rasulullah bersabda yang artinya :
“sesungguhnya perumpamaan diriku dan para Nabi lainnya sebelumku, seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Ia mengerjakannya dengan baik dan indah, kecuali letak sebuah batu bangunan dipojoknya. Manusiapun lantas melihat sekelilingnya dan terkagum-kagum seraya berkomentar : ‘Hanya kenapa tidak diletakkan batu ditempat itu?’, Beliau bersabda : Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para nabi.” (Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim pada shahih keduanya).
Hadits di atas SHAHIH dikelarkan oleh Al-Bukhori (3535), Muslim (2286) dan Ahmad (II:256) dari hadits Abu Hurairoh. Dalam masalah yang sama dari hadits Jabir ada dala Al-Bukhori (3534), Muslim (2287) dan At-Tirmidzi (2862). Dan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri ada dalam Muslim (2286). Juga dari Ubayy bin Ka’ab dalam Sunan At-Tirmidzi (3613).
Lihat… sudah cocok belum wazannya ?
JAWABAN NASIR AHMAD :
wah bagus juga jawabnya, cuma sayang jawaban anda sama sekali jauh dari tepat. Coba cermati lagi tulisan saya, saya meminta, siapa saja yang ingin mengartikan ayat ‘Khaataman Nabiyyin’ dengan “Penutup”, maka berdasarkan aturan bahasa Arab, dia harus merubah tulisan “Ayat Alqur,an dalam Surah Al Ahzab : 40” tersebut dengan ‘Khaatimun Nabiyyiin’. Sedangkan anda mengambil contoh penulisan dalam Hadits yang konteks persoalannyapun jauh berbeda denga QS. 33 : 40. Jadi persoalannya adalah, dalam QS. 33 : 40 tulisannya adalah ‘Khaataman Nabiyyiin’, maka artinya tentu saja tidak bisa “Penutup” tapi CAP/CINCIN/MATERAI, sedangkan dalam Hadits yang anda kutip memang bisa saja artinya “Penutup Nabi2” karena tulisannya memang bukan “Khaataman Nabiyyiin”,
BANTAHAN SAYA :
Mas, anda pernah belajar Nahwu tidak? Anda ngotot bahwa wazannya mesti “Faa ‘i Lun” sehingga lafaz di surat Al-ahzab tersebut harus “Khaatimun Nabiyyiin” biar dapat diartikan penutup.
Kita temukan di kamus bahwa khatama memiliki banyak arti diantaranya : penutup, cap/stempel, cincin, dan materai. Anda ngeyel bahwa itu mesti artinya “CAP/CINCIN/MATERAI” dan membuang arti penutup. Sekarang saya minta anda menyebutkan dalil yang merojihkan/menguatkan pendapat anda tersebut dari Hadits yang SHAHIH ditambah dengan keterangan-keterangan dari para ulama yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.
Saya sudah bawakan Hadits SHAHIH yang menguatkan dan menjelaskan surat Surah Al Ahzab : 40 tersebut. Wazannya cocok dan artinya juga PENUTUP, apakah Hadits shahih tersebut mau anda ingkari?, dan sebenarnya satu Hadits tersebut sudah cukup menjadi pemacu buat anda untuk mengkritisi ajaran-ajaran Ahmadiyah yang sesat. Perlu anda ketahui bahwa Al-Qur’an banyak mengandung lafaz-lafaz umum dan global, maka keglobalan Al-Qur’an dijelaskan oleh Hadits Rasulullah shollahu’alaihiwasallam, contohnya yaitu di dalam Al-Qur’an ada perintah untuk sholat, tapi tidak ada perincian mengenai tata cara sholat, darimanakah kita tahu rukun-rukun sholat dan gerakan-gerakan sholat? Jawabannya adalah kita mengetahuinya dari Hadits-hadits Rasul.
Nah, Hadits tersebut sangat jelas sekali menerangkan bahwa Rasulullah shollahu’alaihiwasallam adalah PENUTUP para Nabi.
JAWABAN NASIR AHMAD :
Hadits tersebut sedang menceritakan tentang perbandingan beliau dengan nabi2 sebelumnya, dari analogi yang beliau kemukakan maka sebetulnya kita seharusnya paham, bahwa beliau sedang membicarakan tentang Syariat/ajaran, dimana Syariat yang beliau bawa, yaitu Agama Islam, adalah ajaran penyempurna dari ajaran yang dibawa oleh nabi2 terdahulu, itulah maksud dari bata yang terakhir. Jadi kata penutup nabi2 yang beliau maksud, tentu saja adalah penutup nabi2 yang membawa Syariat selain Islam. Sebabnya adalah, derajat kenabian Beliau saw. adalah lebih mulia dan tidak mungkin disamakan dengan derajat nabi2 sebelum beliau, karena pangkat kenabian Beliau saw adalah untuk “Rahmatan lil ‘alamin”, sedangkan nabi2 sebelum beliau adalah hanya untuk satu kaum saja. Jadi kesimpulannya adalah, kedatangan nabi2 terdahulu sebelum Nabi Muhamad saw. adalah bagaikan proses membangun sebuah bangunan, dimana kedatangan Beliau saw. adalah sebagai penyempurna dengan ajaran Islam. Dan ini tidak bertentangan untuk kenabian yang tidak membawa Syariat, karena berdasarkan ayat2 Alquran nabi Kenabian belum terputus, begitu pula dengan sabda2 Beliau saw. yang menyatakan bahwa nabi yang tidak membawa syariat akan datang.
BANTAHAN SAYA :
Nasir Ahmad, lihat kembali Hadits tersebut, perhatikan lafaz “Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para nabi”. Lihat, “Akulah batu bangunan itu”, dan jika yang anda qiyaskan bangunan itu adalah syari’at islam maka semestinya lafaznya adalah kira-kira begini “akulah yang meletakkan batu bangunan yang terakhir itu” atau dengan lafaz yang semisalnya, tapi lafaznya khan gamblang sekali “AKULAH BATU BANGUNAN itu”, dan ditambah lagi lafaz “Dan akulah penutup para nabi” yang menegaskan maksud ucapan beliau shollahu’alaihiwasallam yang sebelumnya, apakah anda masih mengingkari dhohir lafaz tersebut?
JAWABAN NASIR AHMAD :
Anda kan baru jawab satu dalil saya, padahal saya sudah kemukakan 6 argumen, kenapa tidak anda komentari?.
BANTAHAN SAYA :
Baiklah, saya akan membantah syubhat-syubhat anda yang sebelumnya terlewatkan untuk saya bahas.
Di bawah ini kembali saya kutip syubhat dari anda :
2. Saya kutip contoh2 hadis tentang pemakaian arti khatam dalam bahasa sehari2 contoh :
“lamma araada rasulullah saw. an yaktuba ilal ‘ajami qiila lahu innal ‘ajama laa yaqbaluuna illaa kitaaban ‘alaihi Khaatamun, fashthuni’a khaataman faka annii anzhuru ilaya bayaadhihi fii kaffihi”.
artinya: “Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa “Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: ‘Sungguh bangsa ‘Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai CAP’. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu’adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik ra. dalam Shahih Bukhari, bab “pakaian”, Shahih Muslim, bab “pakaian”, Hadits no. 2072, dan dalam Sunan Abu Daud, bab “CINCIN”, hadits no. 4214)
3. Dalam ayat yang dibahas Khaataman Nabiyyin dinamakan Mudhof-mudhof ilaihi. Berdasarkan penelitian yang teliti, perkataan khatam apabila digandengkan (di-idhofah-kan) di belakangnya kata jamak, misalnya: al mufassirin, al muhaajirin, al fuqaha, dll. maka artinya senantiasa ialah “AFDHOL, YANG LEBIH MULIA” kita dapat memperoleh contoh :
dalam suatu hadist Rasulullah saw.menyebut Hz. Umar ra. dengan KHAATAMUL MUHAAJIRIN (Kanzul Umal, juz VI, h. 17. kemudian: Hz. Ali ra. disebut oleh Rasulullah saw. KHAATAMUL AULIYA (Wafiyyatu a’ayan libni khalkan jld. I/123), dan masih banyak lagi contonya. Coba mba perhatikan, apakah Hz. Umar ra. adalah penutup orang yang berhijrah? kemudian Hz. Ali ra. adalah penutup para wali ?
4. Silahkan anda baca asbaabun nuzul dari ayat ini, maka seharusnya anda dapat paham, arti penutup nabi2 tidak sesuai dengan konteks kalimatnya.
BANTAHAN SAYA :
Bentuk kata “khatama” di dalam Al-Qur’an ada 3 jumlahnya, “nakhtinu” ada 1, kata “yakhtimu” ada 1, dan kata “khatama” ada 1 juga, sedangkan penyebutannya ada yang lebih dari sekali disebutkan. Berikut rinciannya :
(1) Surat Al-Baqarah ayat 2 :
Artinya :
“Allah menutup atas hati-hati mereka, pendengaran dan penglihatan mereka ditutup…”
(2) Surat Al-An’am ayat 46 :
Artinya :
“Katakanlah : ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?’”
(3) Surat Al-Jaatsiah ayat 23 :
Artinya :
“Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati (menutup) pendengaran dan hatinya”
(4) Surat Yaasin ayat 65 :
Artinya :
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”
(5) Surat Asy-Syura ayat 24 :
Artinya :
“Bahkan mereka mengatakan : ‘Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah’. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati (menutup) hatimu’”
(6) Surat Al-Ahzab ayat 40 :
Artinya :
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”
Coba anda perhatikan 5 surat di atas (selain surat Al-Ahzab ayat 40), coba anda masukkan kata stempel, materai, dan cincin kedalam artinya, apakah cocok? Tentu saja janggal! Dan semua bentuk kata tersebut berasal dari kata yang satu yaitu “khatama”.
Andai saja pada surat Al-Ahzab ayat 40 diartikan sebagai “CAP/CINCIN/MATERAI”, maka saya katakan bahwa hal tersebut justru menguatkan bahwa Rasulullah adalah penutup nabi-nabi. Kita andaikan saja “surat kuasa” atau “surat perjanjian”, setelah tertulis kata perjanjian pada surat tersebut maka sebagai penutup untuk mensahkan surat perjanjian tersebut agar mempunyai kekuatan hukum maka dibubuhi cap dan materai, setelah cap dan materai sudah menempel maka surat perjanjian tersebut tidak bisa ditambahi dengan tulisan yang macam-macam karena sudah disahkan (sudah dicap dan distempel). Tinggal lagi kata “cincin”, maka saya katakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits banyak sekali yang merojihkan dan menegaskan bahwa arti yang dimaksud adalah PENUTUP.
Berikut saya bawakan dalil yang menguatkan dari Hadits-hadits Rasulullah shollahu’alaihiwasallam selain dari yang sudah saya sebutkan sebelumnya :
(1) Sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam :
Artinya :
“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah putus. Lantaran itu tidak ada seorang Rasul dan tidak ada seorang Nabi sesudahku…” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
(2) Sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam :
Artinya :
“Sesungguhnya tidaklah Allah mengutus nabi-nabi kecuali untuk memperingatkan umatnya akan kedatangan dajjal, akulah nabi terakhir dan kalian umat terakhir, Dajjal akan keluar diantara kalian, tidak bisa tidak. Sesungguhnya ia akan mulai berkata ‘aku nabi’, padahal tidak ada nabi sesudahku” (HR. Ibnu Majah).
Serta banyak Hadits-hadits lainnya yang menegaskan bahwa tidak ada nabi setelah Rasulullah. Coba perhatikan Hadits yang terakhir di atas… kalimat “akulah nabi terakhir dan kalian umat terakhir”, tegas sekali bahwa beliau adalah nabi terakhir berarti tidak ada nabi setelah beliau dan umatnya (kita) adalah umat terakhir hingga akhir zaman, berarti jika kita adalah umat yang terakhir maka umatnya si mirza al-kazzab umat yang mana?, 2 pernyataan yang sangat tegas dan telak bagi syubhat-syubhat anda !. Pada Hadits tersebut Rasulullah menyatakan bahwa akan keluar Dajjal yang mengaku-ngaku jadi nabi, si mirza al-kazzab mengaku-ngaku nabi, jadi siapakah mirza? Dajjal kecil-kecilan…
Kemudian mengenai meng-idhofahkan kata khatam dengan kata jamak (mudhof-mudhof ileh) yang artinya “AFDHOL, YANG LEBIH MULIA”, maka saya katakan bahwa kaidah tersebut tidak ada dalam ilmu nahwu, dikitab nahwu manakah kaidah tersebut terdapat? di Al-kitab Sibawaih? Qotrun nada Ibnu Hisyam? Ajurumiyah ? Alfiyah Ibnu Malik?, atau pendapat ulama nahwu manakah yang anda rojihkan?
Kemudian anda memberi contoh :
–>
“hadist Rasulullah saw.menyebut Hz. Umar ra. dengan KHAATAMUL MUHAAJIRIN (Kanzul Umal, juz VI, h. 17. kemudian: Hz. Ali ra. disebut oleh Rasulullah saw. KHAATAMUL AULIYA (Wafiyyatu a’ayan libni khalkan jld. I/123”.
< --
Saya katakan bahwa, Hadits KHAATAMUL MUHAAJIRIN tersebut juga dimuat di buku Ahmadiyah “Kami Orang Islam, Penerbit : Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia th. 1983 hal. 52” (mungkin anda juga mengutip dari buku tersebut?). Ralat sedikit, hadits itu dikutip dari Kanzul Umal (pada buku “Kami Orang Islam”) juz VI, h. 178 (bukan hal. 17 seperti yang anda tulis). Sebenarnya syubhat ini sudah kadaluarsa karena orang-orang sudah pada tahu bantahannya. Baiklah, pada Kanzul Umal, lafaz hadits tersebut adalah (athma inna yaa ‘ammiy) bukan (athma’inna ya ‘umar), coba anda merujuk lagi ke kitab Kanzul Umal Juz II hal. 669 no. 333870, dan Kanzul Umal Juz VI yang disebutkan TIDAK membahas permasalahan tersebut!.
Berikut hadits tersebut :
Artinya :
“Tenangkanlah hatimu wahai paman, sesungguhnya engkau orang terakhir berhijrah sebagaimana saya adalah penutup nabi-nabi”
Yang dimaksud dengan paman dalam hadits tersebut adalah Abbas rodhiallahu’anhu, paman Nabi (ayahnya Ibnu Abbas rhodiallahu’anhuma). Asbabul Wurud hadits tersebut adalah bahwa dari catatan siroh tercatat orang yang terakhir hijrah dari Makkah ke Madinah adalah Abbas paman Nabi. Ketika Abbas membawa keluarganya hijrah ke madinah, pada tengah perjalanan bertemu dengan rombongan Rasulullah yang bergerak menuju Makkah dalam rangka penaklukan kota Makkah (Fathul Makkah). Dalam pertemuan di tengah jalan tersebut Rasulullah menyalami pamannya seraya mengucapkan hadits tersebut, serta langsung mengajak pamannya untuk kembali ke Makkah sekaligus menjadi perantara antara kaum muslimin dengan tokoh Quraish (Lihat Munawwar Khalil, Kelengkapan Tarikh, Juz Iib, hal. 40, cet. IV th. 1983).
Adapun kedudukan hadits tersebut adalah Mursal, dan hadits mursal adalah hadits yang terputus di akhir sanad yaitu sahabat tidak disebutkan dalam sanad (dari tabi’in langsung ke Rasulullah). Perlu juga untuk diketahui bahwa hadits mursal merupakan bagian dari hadits dho’if (lemah). Dan haram hukumnya mengamalkan hadits Dho’if, apalagi maudhu’, apalagi riwayat yang dihukumi laa ashlalahu!. Kenapa sih orang Ahmadiyah suka sekali berdalil dengan hadits dho’if, maudhu’ dan riwayat yang ashlalahu?
Kemudian mengenai hadits KHAATAMUL AULIYA (Wafiyyatu a’ayan libni khalkan jld. I/123), berikut saya tampilkan lafaz asli hadits tersebut :
“anaa khootimul anbiyaa’ wa anta yaa ‘aaliy khootimamal awliyaa’”
Hadits KHAATAMUL AULIYA tersebut adalah hadits maudhu’ atau hadits palsu!, 2 pelaku hadits maudhu (pembuat dan orang yang mengedarkannya dengan sengaja) terhukum sebagai pendusta, karena telah berdusta atas nama Nabi, padahal Nabi tidak pernah mengucapkan hadits tersebut!. Keterangan lebih jauh tentang hadits tersebut, silahkan merujuk pada buku “Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah” karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-albani (buku ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia oleh beberapa penerbit). Mas Nasir, saya tekankan lagi bahwa ilmu hadits itu penting dan menjadi landasan berpijak dalam beragumen selain ilmu ushul fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Kita harus sama-sama fair menerima kenyataan bahwa hadits tersebut adalah hadits maudhu, karena yang dicari adalah kebenaran.
Saya sudah jabarkan dalil-dalil yang menguatkan baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah bahwa arti “khatama” pada surat Al-ahzab ayat 40 tersebut adalah penutup. Jika anda tetap ngeyel artinya cincin (padahal kemungkinannya banyak loh, kok mesti cincin gitu loh?), coba datangkan dalil yang merojihkan pendapat anda, dan mohon dicheck dulu haditsnya…
JAWABAN NASIR AHMAD :
5. Akan bertentangan dengan ayat2 lain yang menyatakan bahwa nabi/rasul akan senantiasa datang, contoh: Al Hajj : 75
BANTAHAN SAYA :
Saya katakan bahwa Al-Qur’an dan Hadits Rasul sejalan dan tidak pernah bertentangan. Anda salah menafsirkan surat Al-Hajj di atas, coba anda merujuk pada kitab-kitab tafsir yang sudah ma’ruf seperti Tafsir Ibnu Katsir dan lain-lain, lihat dan cermati tafsiran surat Al-Hajj ayat 75 tersebut. Sebelumnya saya ingin bertanya, “sudah belajar ilmu ushul tafsir belum?”.
JAWABAN NASIR AHMAD :
6. Hadist2 nabi juga menyatakan akan ada Nabi/Rasul yang akan datang setelah Nabi Muhamad saw. contoh yang paling jelas adalah menurut sabda Nabi saw. Nabi Isa Ibnu Maryam akan datang.
Silahkan anda jawab satu persatuCatatan: semua nabi yang akan datang adalah tidak membawa syariat baru.
Nasir Ahmad | Homepage | 08.02.05 - 4:40 am | #
BANTAHAN SAYA :
Benar sekali bahwa Nabi shollahu’alaihiwasallam menyatakan bahwa Nabi Isa akan turun ke bumi untuk membasmi Dajjal, begitupun Imam Mahdi. Turunnya Isa Al-masih dari langit dan kedatangan Imam Mahdi merupakan tanda kiamat kubro. Ingat, Isa Al-masih sudah pernah diutus kepada kaumnya sebelum Rasulullah, dan kemudian diangkat oleh Allah ke langit dan kemudian pada akhir zaman akan diturunkan oleh Allah untuk membunuh Dajjal, banyak Hadits-hadits yang shahih dan bahkan sampai pada derajat mutawatir yang menerangkan akan kedatangan Isa Al-Masih dan Imam Mahdi (pembahasannya tersendiri). Yang jelas, Isa Al-masih dan Imam Mahdi adalah 2 sosok yang berlainan dan bukan 1 sosok manusia, dan sangat lucu sekali jika mirza al-kazzab mengaku-ngaku jadi Imam Mahdi dan Isa Al-masih, tidak relevan sekali dengan Al-Qur’an dan Hadits yang shohih, bahkan sangat tidak relevan dengan kenyataan dhohir.
IBNU MUNZIR:
Mas Nasir Ahmad dan yang lainnya, ketahuilah bahwa hati ini lemah sedangkan syubhat datang menyambar-nyambar, untuk itu satu yang perlu kita perkuat adalah aqidah dan tauhid, pelajari lagi kitab-kitab para ulama yang bermanhaj yang benar yang memahami nash-nash berdasarkan pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shollahu’alaihiwasallam kepada para sahabat, karena merekalah yang merupakan murid-murid Rasulullah yang tentu saja islam pada masa itulah islam yang murni. Sekali lagi belajar, belajar dan belajar dari yang hal yang mendasar dengan mengambil pemahaman yang benar. Sebelum nyawa sampai ke tenggorokan masih ada kesempatan untuk bertobat
JAWABAN NASIR AHMAD :
Nampaknya, ungkapan puitis di atas lebih cocok ditujukan pada anda. Karena keyakinan anda telah menolak wahyu dan adanya kenabian “umati” tentang kedatangan Nabi Isa as/Al Mahdi yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. sangat berbahaya bagi Islam. Apakah anda bersikeras bahwa Isa yang datang itu bukan nabi? Menurut Imam Suyuthi, dalam kitabnya “Nuzul Isa” penolakan kedatangan dan kedudukan Isa setelah Rasulullah saw. sebagai nabiyullah cukup membuat dia menjadi kafir. Ini bukan kata2 orang Ahmadi Lho.
BANTAHAN SAYA :
Jelas sekali salah satu aqidah islam adalah MENGIMANI bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalam akan turun, dan kami MENGIMANI bahwa Imam Mahdi akan datang pada akhir zaman. Akan tetapi, kami tidak sebodoh kalian yang menganggap ‘Isa dan Imam Mahdi itu satu orang yang sama. Anda mengutip perkataan Imam Suyuthi “Nuzul ‘Isa”, apakah anda sudah membaca bukunya ?. Saya ralat, bahwa judul buku Imam Suyuthi itu adalah “Nuzul Isa bin Maryam Akhir Zaman”. Anda mengutip pendapat Imam Suyuthi sebagiannya hanya untuk membenarkan pendapat anda, padahal dalam buku tersebut jelas-jelas BERTOLAK BELAKANG dengan aqidah Ahmadiyah.
Biar lengkap saya kutip komentar anda di http://khairani.blogspot.com:
NASIR AHMAD :
……. Contoh yang paling jelas adalah tentang paham umat Islam mengenai N. Isa as.. Dimana umat Islam, pada umumnya, masih mengakui Bahwa Nabi Isa masih hidup dilangit. Sungguh kepercayaan yang penuh takhyul, dan sarat kemusyrikan. Bagaimana seorang yang mengaku muslim, tetapi mensejajarkan Tuhan dengan manusia? Tuhan itu abadi, tidak makan, tidak tidur, tapi Nabi Isa itu mahluk yang fana, beliau harus tidur, harus makan , harus bayar zakat, dll. banyak hal yang perlu diluruskan dalam aqidah Islam, terutama juga mengenai keyakinan umat Islam pada umumnya, bahwa Tuhan sudah bisu pada zaman ini. Artinya, malaikat jibril pensiun…..
BANTAHAN SAYA :
Justru pendapat anda (aqidah Ahmadiyah) yang penuh dengan kebodohan!, anda menolak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits berdasarkan logika anda yang picik!.
Baik, berikut adalah pemahaman yang benar tentang turunnya Nabi ‘Isa di akhir zaman :
(1)
Nabi ‘Isa tidak wafat disalib atau dibunuh, tapi beliau diangkat oleh Allah ke langit, dalilnya surat An-Nisaa ayat 157-158. Anda katakan bahwa Nabi ‘Isa mahluk yang fana yang butuh makan, tidur dan lain-lain, maka saya bawakan surat An-Nisaa ayat 158, yang artinya,
“Tetapi, Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya . Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Pada akhir ayat, Allah katakan bahwa “Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”, dan itu tidaklah sulit bagi Allah karena Dia maha perkasa, jadi sangat lucu jika anda berdalil dengan logika anda, dengan kata lain anda telah membentrokkan akal anda dengan wahyu.
Anda katakan kami mensejajarkan ‘Isa dengan Tuhan. Maka saya katakan anda telah berpikir picik!, darimana anda membuat kesimpulan seperti itu?, orang seperti anda yang perlu diluruskan Aqidahnya…
Ketahuilah bahwa kami juga berkeyakinan bahwa Nabi ‘Isa juga mahluk yang fana seperti manusia, beliau juga pada akhirnya akan meninggal, dalilnya :
“Isa kemudian wafat dan dishalati oleh kaum muslimin” (HR. Ahmad 2/406, Abu Dawud 11/456 dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar 6/493)
Kemudian, ketahuilah bahwa ‘Isa sekarang berada di langit (lihat Surat An-Nisaa ayat 157-158), dan Nabi ‘Isa pada akhir zaman akan diturunkan oleh Allah, dalilnya :
“Isa bin Maryam turun di menara putih sebelah timur damaskus, memakai pakaian yang harum sambil meletakkan kedua lengan tangannya pada sayap dua malaikat, rambutnya meneteskan air, bila dia mengangkat kepala, maka air (tersebut) berkilau seperti berlian. Orang kafir yang mencium baunya, pasti akan mati seketika dan baunya sejauh dia memandang. Hingga ‘Isa mencari Dajjal dan bertemu di pintu Luddin (sebuah kota dekat Baitul Maqdis) dan membunuhnya” (HR Muslim no. 2137).
(2)
Nabi ‘Isa merupakan sosok yang berbeda dengan Imam Mahdi dan Nabi ‘Isa mengikuti syari’at Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, dalilnya adalah :
“Isa bin Maryam shalat di belakang Imam Mahdi” (HR Muslim 247).
Kemudian,
“’Isa menunaikan ibadah haji/umroh” (HR. Muslim no.1252).
Dan banyak lagi hadist-hadits yang derajatnya Mutawatir alias sangat shahih karena diriwayatkan oleh banyak sahabat pada banyak jalan. Diantaranya Rasulullah menegaskan bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan beliau (dari keturunan Hasan putra Siti Fatimah rodhiallahu’anha), Imam Mahdi memiliki nama yang sama dengan Rasulullah (Muhammad) dan nama ayahnya sama dengan nama ayah Rasulullah (‘Abdullah), serta banyak lagi hadits-hadits lainnya…
JAWABAN NASIR AHMAD :
Terus mana tanggapan untuk point2 yang lainnya? postingan tulisan saya tentang arti khataman nabiyyin adalah satu kesatuan dari Tata bahasa, Alquran, dan juga Hadits, Kalau sdr Ibnu Munzir menjawab hanya sebagian2 ya ga akan lengkap dan sempurna bantahannya, artinya tidak fair dengan tuduhan2 anda juga orang yang sependapat dengan anda tentang aqidah Ahmadiyah. Keyakinan orang Ahmadi, yang dianggap sesat, selama ini selalu mendasarkan Aqidahnya dengan Argumen yang komprehensip berdasarkan Alquran dan Hadits. dan tentang khaatamannabiyyin ini, saya masih punya segudang argumen yang belum saya kemukakan, tapi kalau yang ini saja belum bisa dibantah, bagaimana saya mau menjelaskan yang lainnya?
JAWABAN SAYA :
Sabar mas, anda cermati dulu bantahan-bantahan saya yang ada ini dulu ya…
IBNU MUNZIR :
Sedangkan Surat Ash-Shaff ayat 6 :
Yang artinya :
“Ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata kepada Bani Israil, ‘Hai Bani Israil, aku adalah Rasul Allah untukmu yang membenarkan Taurat yang datang sebelum aku, serta memberikan berita gembira akan datang seorang Rasul sesudahku yang bernama Ahmad’, tetapi setelah Rasul datang dengan membawa keterangan, mereka mengatakan ‘inilah sihir yang nyata’”.
Ayat di atas dijadikan hujjah oleh orang-orang ahmadiyah yang dungu untuk membenarkan kenabian mirza al-kazzab. Hujjah mereka sangat lemah bahkan lebih lemah dari sarang laba-laba.
Berikut ini saya bawakan sebuah Hadits yang menegaskan dan menjelaskan Surat Ash-Shaff ayat 6 tersebut sekaligus membantah secara telak hujjah mereka :
Rasulullah shollahu’alaihiwasallam bersada yang artinya,
“Saya memiliki nama-nama (empat nama) : Saya Muhammad, saya Ahmad , Saya Al-Mahi, dimana dengan perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir, yang mana manusia nanti akan dikumpulkan di hadapanku. Saya juga bernama Al-’Aqib, yaitu yang tidak ada nabi lagi yang datang sesudahku“.
Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Bukhori (3532), Muslim (3254) dan At-Tirmidzi (284), dari hadits Jabir bin Muth’im.
Sehingga dapatlah dibuktikan beliaulah penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelah beliau shollahu’alaihiwasallam. Maka dapatlah diketahui, bahwa siapapun yang mengaku-ngaku menjadi nabi setelah Rasulullah shollahu’alaihiwasallam, adalah pendusta !.
JAWABAN NASIR AHMAD :
Coba anda perhatikan kembali !!! pertama, hadist ini jelas hanya menyatakan bahwa Beliau saw. memiliki juga 4 nama sifat yang diberikan oleh Allah swt, diantaranya adalah Ahmad, sedangkan dalam ayat Alquran surah Ash-shaf : 6 tersebut adalah untuk Isim Zat atau proper name atau nama asli. Bila kita perhatikan secara teliti, maka kita akan dapati contoh2 dalam Alquran kata panggilan yang dimulai dengan “Ismuhu” yang hanya selalu dipakai untuk nama zat atau nama asli tidak pernah untuk nama sifat.
BANTAHAN SAYA :
Ketahuilah, jika anda pernah belajar tauhid maka mesti ngerti bahwa ada 3 yang memiliki nama sekaligus sifat, yaitu Allah, Rasulullah, dan Al-Qur’an. Hal ini sudah ma’ruf kok di kalangan ahlul ‘ilm. Allah memiliki nama lain yang nama tersebut sekaligus sifat-Nya, yaitu diantaranya Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Al-Qur’an memiliki nama Al-Furqoon, Az-Zikr, Al-Hukm, dan lain-lainnya… begitupun dengan Rasulullah pada hadits tersebut…
Coba perhatikan lagi “Saya memiliki nama-nama : Saya Muhammad, saya Ahmad , Saya Al-Mahi… dst…
Coba perhatikan lafaz “inna liy asmaa an” trus dilanjutkan “wa ana Muhammad… dst…”, apakah selama ini nama Muhammad itu dipahami hanya nama sifat? Jelas itu adalah ismun karim atau nama untuk zat juga dan bukan hanya nama untuk sifat!.
JAWABAN NASIR AHMAD :
Kemudian anda menterjemah “laisa ba’dahu nabiyya”dengan “tidak ada lagi nabi sesudahku”. Saya tidak tahu, apakah anda sengaja merubahnya atau anda mengutip terjemahan yang memang salah juga. “laisa ba’dahu nabiyya” artinya adalah: “tidak ada lagi nabi sesudahnya” Bila kita melihat urutan kalimat hadist tersebut maka kita akan tahu jalannya perkataan, dimana selalu dipakai lafaz “Saya” (Mutakallim/orang pertama) sedang dalam lafaz “ba’dahu” tiba2 datang domir ghaib, yaitu “orang ketiga”. Dari situ jelas sekali bahwa perkataan “Aladzii laisa ba’dahu nabiyya” itu hanya perkataan penulis hadist saja, yaitu Zuhri, sebagaimana diterangkan dalam hadist “Muslim” juz II, yang artinya: “ Dan dalam Hadist ‘Uqail ia menanya kepada Zuhri: “ Apakah arti Al’aqib itu?” Maka sahutnya: “Tidak ada nabi dibelakangnya” lagipula dalam Bukhari hadist tersebut tidak ada perkataan “Aladzi laisa ba’dahu nabiyya”.Jadi jelas, satu tanda bahwa perkataan itu bukan dari Rasulullah saw tetapi dari orang lain. Ibnu Araby dalam Syarah Muslim berkata, “Al Aqib itu adalah yang dijadikan lebih bagus daripada yang terdahulu” ….. - snip snip snip - …. (ada bagian yang dipotong, insya Allah akan dibahas selanjutnya jika ada waktu -ibnu munzir).
JAWABAN SAYA :
Kok hancur banget pemahaman bahasa arab anda… *geleng geleng kepala*.
Jika anda ngerti bahasa arab, maka saya mengartikan “tidak ada lagi nabi sesudahku” sama sekali tidak merubah makna kalimat tersebut.
Coba perhatikan “wa anaa al ‘aaqib, wal ‘aaqibu alladzi laysa ba’dahu nabiyyun”
dhomir hu itu kembali kepada al ‘aaqib (isim sebelumnya), dan al-’aaqib itu salah satu nama Rasulullah (wa anaa al ‘aaqib). Ingat, kaidah dasar nahwu, bahwa dhomir itu kembali kepada isim yang paling dekat dengannya, dan ini sudah lumrah dalam bahasa arab…
Cukup sekian dulu, mohon para ahmadi mencermati dengan memikirkannya, jangan hanya mau dikungkung oleh doktrin imam-imam anda. Banyak sekali yang ngaku-ngaku jadi nabi setelah mirza al-kazzab, jika anda anda berkeyakinan akan datang nabi nabi sampai akhir zaman maka seharusnya jema’at anda bukan Ahmadiyah lagi namanya, harus ganti ganti terus… misalnya ada yang namanya Somad ngaku jadi nabi maka anda harus ganti nama, bukan lagi Ahmadiyah, tapi Somadiyah, gitu terus…
Sekarang giliran saya nanya, bagaimana dengan kitab Tadzkirah milik nabi palsu anda yang jelas-jelas mencatut Al-Qur’an?, bagaimana dengan anggapan kaum anda yang menganggap bahwa Qadian itu adalah kota suci agama anda, bukankah ini syari’at baru? Lho katanya gak ada syari’at yang dibawa mirza…
Trus lagi Ahmadiyah punya bulan sendiri yang menandingi bulang-bulan Islam, seperti Suluh, Tabligh, Aman, Syahadah, Hijrah, dll, kok bisa? kenapa tidak pake bulan Islam yang sudah ada?

Saya cuman mo tanya: bagi Ahmadiyah,klo ngak salah mereka itu yang mengakui bahwa sanya mirza gaulam ahmad tu sebagai rasul ya:klo iya!pertanyaan saya:
1.kitab apa yang di turunkan sama dia
2.adakah sahabat-sahabat yang membantu perjuangan beliau
3.dimana ia syi’arkan islam
4.kalo mirza mengakui alqur’an tu kitabnya maka itu hanyalah lelucon,……..dari orang yang tak berilmu,……..
just it,for now………..!
Comment by sayur — January 10, 2006 @ 4:16 pm
rame bangeut,………..!
ups,ma’lum saya orang awam,……
Adalah wajar,kalau hlnya yang diperdebatkan adalah hadis.Tapi janganlah kiranya umat islam memperdebatkan Alqur’an Almu’min40:4.ingat :Alqur’an di turunkan dalam bahasa arab yang jelas
Saya mo tanya lagi:
1.adakah dalam alQur’an yang menerang kan akan turunya kitab yang lain yaitu kitab tadzkirah,…….
2.Apa mu’jizat dari mirza,…………
Comment by sayur — January 10, 2006 @ 4:45 pm
1.apa pengertian nabi menurut paham ahmadiyah
2.apakah kitab tadzkirah termasuk kitab samawi
Saya pernah merasa menjadi nabi Allah saat saya mengajarkan agama kepada orang-orang.tapi sayangnya aku juga terkadang jadi setan saat mengikut hawa nafsu setan
kalo bukan kitab samawi berarti,seperti kitab kitabnya para ulama ya! Ada banyak orang bikin kitab tuh,tapi mereka ngak ngaku dirinya nabi!
Comment by sayur — January 13, 2006 @ 5:01 pm
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.
Alhamdulillaahi robbil ‘alamiin. Wassholaatu was salaamu ‘ala khotamun nabiyyin. Wa ‘ala ahlihi wa shohbihi ajma’in. amma ba’du.
Perdebatan yang terjadi bagi saya pribadi sudah sangat membuka hati, mata & fikiran saya tentang manhaj salaf & ahmadiyah.
Sedikit mengingatkan Bapak IBNU MUNZIR, bahwa mubadzzir menjawab & berbagi pengetahuan dengan ummat Dajjal ( Mirza Ghulam Ahmad ). Saya kira sudah lebih dari cukup apa yang anda ungkapkan kepada murid2 Al-Kazzab & para pengikutnya.
Seperti kita ketahui bersama, mereka seperti beberapa ayat yang tertera dibawah ini & sebagai hujjah anda u/ menjelaskan kepada mereka namun ALLAH AL-’ALIM telah membutakan mata & hati mereka. Serta beberapa ayat lainnya.
QOLALLOHU TA’ALA FIL QUR-ANIL ‘ADZIIM :
Dan ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan , untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu . Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta .( At-Taubah : 107 )
Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka sedikitpun tidak , memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.( Al-Ankabut : 12 )
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih . Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.( Az-zumar : 3 )
(1) Surat Al-Baqarah ayat 2 :
Artinya :
“Allah menutup atas hati-hati mereka, pendengaran dan penglihatan mereka ditutup…”
(2) Surat Al-An’am ayat 46 :
Artinya :
“Katakanlah : ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?’”
(3) Surat Al-Jaatsiah ayat 23 :
Artinya :
“Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati (menutup) pendengaran dan hatinya”
Comment by Mubarok — February 2, 2006 @ 5:22 am