Beberapa Bantahan Syubhat Ahmadiyah
Sebenarnya saya tidak ingin menanggapi berbagai debat antara orang ahmadiyah dengan teman-teman yang kontra dengan mereka di beberapa blog, diantaranya khairani.blogspot.com dan imponk.blogsome.com, tapi karena dari hari ke hari syubhat yang dilontarkan oleh para ahmadi semakin besar dan membingungkan bagi yang awam (salah satu oknumnya adalah Nasir Ahmad), maka saya kali ini mencoba menuliskan beberapa bantahan yang saya ambil dari kitab tahdzib syarh At-Thohawiyyah, dengan ditambah dengan keterangan-keterangan dari saya sendiri.
Berikut saya kutip syubhat dari Nasir Ahmad di khairani.blogspot.com :
Jawab: coba tolong terangkan dimana letak kacaunya? jangan marah2 dulu, sebutkan dalil mana yang kacau, silahkan bantah dengan dalil juga biar semua yang baca jadi saksi, Ok
Jawab: Hadist ada, tapi saya yakin anda akan bilang apalah, ya dhoif lah, maudhu lah. Jadi saya mau Alquran saja dulu. Silahkan periksa Surah Ash-Shaf : 6
Nasir Ahmad | Homepage | 08.02.05 - 2:39 am | #Saya tidak menolak salah satu arti dari khatama adalah penutup karena arti kamus memang ada yang menyatakan juga CINCIN, CAP atau STEMPEL/MATERAI. Saya hanya punya pendapat lain, bahwa tidak tepat mengartikan khaataman Nabiyyin itu nabi penutup, karena tidak sesuai dengan :
1. Tata bahasa : penutup = Isim fa’il, wajannya adalah fa’ilun. maka tulisan seharusnya adalah : Khaatimun (Dalam ayat lain bukan Isim tapi fi’il, silahkan perhatikan).
2. Saya kutip contoh2 hadis tentang pemakaian arti khatam dalam bahasa sehari2 contoh:
“lamma araada rasulullah saw. an yaktuba ilal ‘ajami qiila lahu innal ‘ajama laa yaqbaluuna illaa kitaaban ‘alaihi Khaatamun, fashthuni’a khaataman faka annii anzhuru ilaya bayaadhihi fii kaffihi”.
artinya: “Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa “Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: ‘Sungguh bangsa ‘Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai CAP’. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu’adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik ra. dalam Shahih Bukhari, bab “pakaian”, Shahih Muslim, bab “pakaian”, Hadits no. 2072, dan dalam Sunan Abu Daud, bab “CINCIN”, hadits no. 4214)
3. Dalam ayat yang dibahas Khaataman Nabiyyin dinamakan Mudhof-mudhof ilaihi. Berdasarkan penelitian yang teliti, perkataan khatam apabila digandengkan (di-idhofah-kan) di belakangnya kata jamak, misalnya: al mufassirin, al muhaajirin, al fuqaha, dll. maka artinya senantiasa ialah “AFDHOL, YANG LEBIH MULIA” kita dapat memperoleh contoh :
dalam suatu hadist Rasulullah saw.menyebut Hz. Umar ra. dengan KHAATAMUL MUHAAJIRIN (Kanzul Umal, juz VI, h. 17. kemudian: Hz. Ali ra. disebut oleh Rasulullah saw. KHAATAMUL AULIYA (Wafiyyatu a’ayan libni khalkan jld. I/123), dan masih banyak lagi contonya. Coba mba perhatikan, apakah Hz. Umar ra. adalah penutup orang yang berhijrah? kemudian Hz. Ali ra. adalah penutup para wali ?
4. Silahkan anda baca asbaabun nuzul dari ayat ini, maka seharusnya anda dapat paham, arti penutup nabi2 tidak sesuai dengan konteks kalimatnya.
5. Akan bertentangan dengan ayat2 lain yang menyatakan bahwa nabi/rasul akan senantiasa datang, contoh: Al Hajj : 75
6. Hadist2 nabi juga menyatakan akan ada Nabi/Rasul yang akan datang setelah Nabi Muhamad saw. contoh yang paling jelas adalah menurut sabda Nabi saw. Nabi Isa Ibnu Maryam akan datang.
Catatan: semua nabi yang akan datang adalah tidak membawa syariat baru.
Silahkan anda jawab satu persatu
Nasir Ahmad | Homepage | 08.02.05 - 4:40 am | #
Berikut bantahan saya :
Para sahabat rasul adalah orang yang paling fasih bahasa arabnya dan pengaruh ‘ajam belum masuk pada waktu itu, dan tidak ada satupun diantara para sahabat yang memaknai “khootaman nabiyyin” dengan arti yang macam-macam, bahkan orang-orang munafik dan orang-orang kafirpun pada zaman itu tidak ada yang mengingkari bahwa arti “khootaman nabiyyin” (lihat surah al-ahzab ayat 40) adalah “PENUTUP NABI-NABI”. Hanya orang-orang bodoh (jahil murokkab) dan para pengekor hawa nafsu sajalah yang mengartikan selain itu. Siapa yang lebih fasih bahasa arabnya, para sahabat rasul atau mirza al-kazzab yang orang india itu yang hidup beberapa abad setelah masa sahabat ???.
Tiap-tiap makna kata dalam nash Al-qur’an dan Hadits harus dimaknai secara syar’i. Sebagai contoh, kata “sholat” jika dimaknai secara bahasa adalah do’a tapi jelas tiap disebutkan kata sholat dalam nash mesti yang dimaksud adalah makna sholat secara syar’i. Kata “wudhu” jika dimaknai secara bahasa adalah bersih-bersih, tapi apakah demikian saja dimaknai? tidak… makna wudhu tersebut haruslah dibawa ke makna syar’i dari wudhu itu sendiri. Serta banyak contoh-contoh lainnya yang menunjukkan adanya perbedaan makna secara bahasa dan secara syar’i.
Jika anda menghendaki lafaz tersebut harus berwazan “faa’ilun” yang berarti “khootimun”. Saya bawakan Hadits yang mematahkan syubhat anda tersebut :

Rasulullah bersabda yang artinya :
“sesungguhnya perumpamaan diriku dan para Nabi lainnya sebelumku, seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Ia mengerjakannya dengan baik dan indah, kecuali letak sebuah batu bangunan dipojoknya. Manusiapun lantas melihat sekelilingnya dan terkagum-kagum seraya berkomentar : ‘Hanya kenapa tidak diletakkan batu ditempat itu?’, Beliau bersabda : Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para nabi.” (Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim pada shahih keduanya).
Hadits di atas SHAHIH dikelarkan oleh Al-Bukhori (3535), Muslim (2286) dan Ahmad (II:256) dari hadits Abu Hurairoh. Dalam masalah yang sama dari hadits Jabir ada dala Al-Bukhori (3534), Muslim (2287) dan At-Tirmidzi (2862). Dan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri ada dalam Muslim (2286). Juga dari Ubayy bin Ka’ab dalam Sunan At-Tirmidzi (3613).
Lihat… sudah cocok belum wazannya ?
Sedangkan Surat Ash-Shaff ayat 6 :
Yang artinya :
“Ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata kepada Bani Israil, ‘Hai Bani Israil, aku adalah Rasul Allah untukmu yang membenarkan Taurat yang datang sebelum aku, serta memberikan berita gembira akan datang seorang Rasul sesudahku yang bernama Ahmad’, tetapi setelah Rasul datang dengan membawa keterangan, mereka mengatakan ‘inilah sihir yang nyata’”.
Ayat di atas dijadikan hujjah oleh orang-orang ahmadiyah yang dungu untuk membenarkan kenabian mirza al-kazzab. Hujjah mereka sangat lemah bahkan lebih lemah dari sarang laba-laba.
Berikut ini saya bawakan sebuah Hadits yang menegaskan dan menjelaskan Surat Ash-Shaff ayat 6 tersebut sekaligus membantah secara telak hujjah mereka :

Rasulullah shollahu’alaihiwasallam bersada yang artinya,
“Saya memiliki nama-nama (empat nama) : Saya Muhammad, saya Ahmad , Saya Al-Mahi, dimana dengan perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir, yang mana manusia nanti akan dikumpulkan di hadapanku. Saya juga bernama Al-’Aqib, yaitu yang tidak ada nabi lagi yang datang sesudahku“.
Ralat :
Ralat dari kesalahan ketikan, pada lafazd terakhir dari hadits di atas adalah “wal ‘aaqibu (bukan wal ‘aaqobu).
Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Bukhori (3532), Muslim (3254) dan At-Tirmidzi (284), dari hadits Jabir bin Muth’im.
Hadits tersebut menjelaskan surat Ash-Shaff ayat 6 di atas dan menegaskan bahwa rasul yang bernama Ahmad tersebut tidak lain adalah Rasulullah shollahu’alaihiwasallam sendiri, dan pada bagian terakhir lafaz hadits kembali Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada nabi lagi datang sesudah beliau.
Sehingga dapatlah dibuktikan beliaulah penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelah beliau shollahu’alaihiwasallam. Maka dapatlah diketahui, bahwa siapapun yang mengaku-ngaku menjadi nabi setelah Rasulullah shollahu’alaihiwasallam, adalah pendusta !.
Kaum Ahmadiyah, salah satunya adalah Nasir Ahmad salah menempatkan dalil, lihat kembali terjemahan surat As-Shaff ayat 6 di atas,
………… serta memberikan berita gembira akan datang seorang Rasul sesudahku yang bernama Ahmad….
Lihat… seorang Rasul, dan datang sesudah nabi ‘Isa. Siapa Rasul yang datang sesudah nabi ‘isa ? jelas sekali adalah Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam.
Kemudian Mirza al-kazzab *seperti yang juga diyakini oleh pengikutnya* ngaku-ngaku jadi nabi tanpa membawa syariat baru. Lihat kembali Surat Ash-Shaff ayat 6, di situ disebutkan kata Rasul bukan nabi. Para ulama telah menyebutkan beberapa perbedaan antara nabi dan rasul, yang diantaranya adalah “orang yang Allah berikan kepadanya berita langit (wahyu), apabila diperintahkan kepada umat maka ia adalah nabi dan rasul (nabi sekaligus rasul -ed), dan apabila tidak diperintahkan untuk menyampaikannya maka ia hanya nabi dan bukan rasul“.
Pada surat As-Shaff ayat 6 di atas gamblang sekali disebutkan kata “Rasul”, sedangkan mirza al-kazzab katanya adalah seorang “nabi dengan tanpa membawa syari’at baru”, jadi tidak masuk dalam kriteria rasul pada ayat tersebut. Sehingga dengan demikian tidaklah tepat kaum ahmadi berdalil dengan ayat di atas. Maka patahlah syubhat dari mereka… !
Dalil-dalil dari Al-qur’an dan Hadits yang saya paparkan di atas sudah cukup untuk membantah syubhat-syubhat ahmadiyah tanpa perlu berpanjang lebar. Jika ada yang mau membantahnya, silahkan merujuk pada nash Al-qur’an dan Hadits, serta merujuk kitab-kitab para ulama yang sudah dikenal dan masyhur di kalangan kaum muslimin bukan malah merujuk kitab-kitab orang-orang ahmadiyah yang majhul dan tidak dikenal ke-tsiqohannya diantara kaum muslimin yang di dalamnya terdapat dalil-dalil yang kacau dan tumpang tindih serta dipahami sesuai dengan hawa nafsu mereka sendiri sehingga jadilah dalil-dalil yang mereka bawakan tersebut saling bertabrakan satu dengan yang lainnya.
Ayat-ayat Al-Qur’an semuanya sudah dijelaskan oleh Rasulullah shollahu’alaihiwasallam dan telah diajarkan seluruhnya kepada para sahabat sehingga tidak bisa seseorang dengan semaunya sendiri mengartikan suatu ayat menurut hawa nafsunya tanpa didasari ilmu.
Nasir Ahmad, nama belakang anda sama dengan nama mirza (mirza ghulam ahmad), kenapa anda tidak mengakui diri anda jadi nabi?, bahkan jauuuuuuh sebelum lahir mirza ghulam ahmad mungkin telah lahir ribuan orang yang memiliki nama ahmad, salah satunya imam ahmad bin hanbal yang terkenal keilmuannya sebagai salah satu imam ahlussunnah wal-jama’ah yang jika dibandingkan keilmuannya dengan si mirza adalah bagaikan langit dan palung laut, tapi beliau tidak ngaku jadi nabi tuh, bahkan ahmad-ahmad yang lain sebelum si mirza juga tidak pernah di catat oleh sejarah pernah ngaku jadi nabi, sampe datang si mirza eh ujug ujug ngaku nabi. Perlu di ketahui bahwa para nabi dan rasul jika wafat maka dikuburkan di tempat wafatnya, contohnya adalah Rasulullah sendiri, lha… si mirza tau kan matinya dimana? si mirza matinya di WC/kakus, seharusnya dia juga di kuburin di WC tempat dia meninggal. Sesungguhnya Allah ingin menghinakan nabi palsu anda tersebut dengan mewafatkannya di WC.
Saya menghimbau kepada anda dan warga Ahmadiyah yang lain untuk kembali kepada islam yang murni seperti islam yang diajarkan oleh Rasulullah shollahu’alaihiwasallam. Ahmadiyah sudah jelas sesatnya, sejak lahir agama ahmadiyah sejak itu pula tidak henti-hentinya para ulama membantah dan mematahkan syubhat-syubhat Ahmadiyah hingga saat ini, jadi sebenarnya berbagai bantahan terhadap ahmadiyah yang merupakan kebenaran yang anda cari sudah banyak sekali dari dulu hingga sekarang, tinggal lagi anda ada upaya tidak untuk ke arah sana.
Mas Nasir Ahmad dan yang lainnya, ketahuilah bahwa hati ini lemah sedangkan syubhat datang menyambar-nyambar, untuk itu satu yang perlu kita perkuat adalah aqidah dan tauhid, pelajari lagi kitab-kitab para ulama yang bermanhaj yang benar yang memahami nash-nash berdasarkan pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shollahu’alaihiwasallam kepada para sahabat, karena merekalah yang merupakan murid-murid Rasulullah yang tentu saja islam pada masa itulah islam yang murni. Sekali lagi belajar, belajar dan belajar dari yang hal yang mendasar dengan mengambil pemahaman yang benar. Sebelum nyawa sampai ke tenggorokan masih ada kesempatan untuk bertobat…

nice posting
Comment by Imponk — August 7, 2005 @ 3:45 pm
Tulisan yang bagus!, saya termasuk pembenci ahmadiyah, menurut saya mereka itu lelucon yang terlalu dibuat2.
kal ogak salah mereka juga menghapus ayat 2 dari yaasin, tapi langsung ke ayat tiga, “innakalaminal mursaliin” ka dari ‘kap’ nya ini dhomirnya langsung ke ghulam ahmad!.
that’s dumb!
Comment by dedenf — August 8, 2005 @ 2:45 am
Posting yang bagus, betul² memberikan pencerahan.
Salam kenal
Budhi
Comment by dbudi — August 22, 2005 @ 8:42 am
Memang banyak orang yang bernama ahmad, tapi kenapa hanya Hz Mirza Ghulam ahmad yang berani mengaku sebagai nabi ya?
Kalau melihat buku-buku yang sudah dihasilkan, saya yakin Ghulam Ahmad juga paham mengenai hukum apabila seseorang mengaku menjadi nabi padahal tidak.
Pernah baca buku-bukunya?
Sebelum nyawa sampai ke tenggorokan,
apakah tidak lebih baik mencari tahu dan memahami kebenaran?
Sepakat…
Tapi tentunya kebenaran yang tidak subjektif.
Sebab bila ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, alangkah baiknya bila kitapun melihat dan mencari tahu secara proporsional, adil, lengkap dan terpercaya..
Selain tentunya berserah diri dan memohon petunjuk kepada Sang Maha Pemberi Petunjuk…
Seorang pembawa pesan hanyalah melaksanakan tugas dari sipemberi pesan.
Sungguhpun tidak menjadi masalah bila pesan tersebut tidak diterima oleh orang-orang yang dituju.
Paling jauh yang bisa dilakukannya adalah mengadu pada si empunya pesan tersebut.
Dan dialah yang akan menentukan apa yang akan dilakukan kepada orang yang menolak pesannya.
Oiya, sejauh yang saya pahami, Mirza Ghulam ahmad tidak meninggal dunia di WC kok,
Beliau memang meninggal karena sakit, tapi Beliau meninggal dalam keadaan normal.
Semoga dapat menjadi bahan renungan.
Salam
ella
Sesungguhnya kebenaran tentu akan menang..
Comment by ella — November 16, 2005 @ 2:59 pm