GERAKAN ANTI SINETRON BURUK SEBAGAI GATE KEEPER TELEVISI
Kebudayaan berkembang dari bermacam-macam hal yang semuanya diciptakan oleh manusia. Diawali dari cara, kebiasaaan dan berkembang lebih lanjut menjadi tata kelakuan yang akan mencerminkan sikap hidup. Ketiga tahap tersebut diakhiri dengan terbentuknya adat dan budaya yang merupakan tata kelakuan yang akan relatif tetap dan kuat. Televisi sebagai salah satu media komunikasi massa memiliki peran yang besar dalam membentuk dan mengembangkan budaya masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh televisi dibandingkan media massa lainnya (koran dan radio). Namun kelebihan inilah juga memiliki kesempatan yang besar untuk menjatuhkan dan meruntuhkan kebudayaan nasional.
Peran media televisi sebagai salah satu dari alat komunikasi massa, seharusnya memiliki tugas (dalam tatanan sistem sosial masyarakat) sebagai penyampai informasi, alat pemasyarakatan, motivasi, perdebatan dan diskusi, pendidikan, memajukan kebudayaan, hiburan dan integrasi. Bila dilihat dari karakteristik tayangannya, maka sinetron dapat memberikan perannya sebagai sarana hiburan, pendidikan dan memajukan kebudayaan.
Hal yang mengkhawatirkan adalah, sinetron-sinetron yang ada sekarang seperti melupakan dimana tayangan itu disalurkan, peran apa yang diharapkan dari tayangan tersebut, bagaimana target penonton mereka, dan apa pertanggungjawaban mereka yang terlibat didalamnya terhadap nilai moral yang sudah mulai bias batas antara baik dan buruk bahkan bias pula di tingkatan umur mana kebaikan dan keburukan itu dapat ditangkap.
Dapat diambil contoh, salah satu sinetron yang mengangkat tema anak sekolahan, mulai dari SD sampai SMA. Dilihat dari sudut pandang tertentu, film ini baik karena mengangkat sekolah sebagai latar ceritanya. Namun bila dilihat dari sudut isi cerita, maka sangat disayangkan, dapat dikatakan bahkan isinya tidak mendidik dan unsur edukatif yang ditayangkan terasa minim.
Untuk anak usia 6-12 tahun, mereka memiliki karakteristik masih suka bermain, belajar bergaul dengan teman sebaya, suka mengembangkan peran sosial, dan juga dalam tahapan mengembangkan sikap sehat mengenai diri sendiri. Mereka adalah sosok individu yang masih dalam tahap perkembangan operasional konkrit, yang berarti mereka lebih dapat mengerti sesuatu yang sifatnya nyata. Oleh karena itulah mereka lebih suka menonton televisi daripada mendengarkan radio.
Melihat fakta-fakta tersebut, jika disesuaikan lagi dengan isi cerita pada sinetron-sinetron Indonesia yang mayoritas mengangkat masalah remaja, maka akan terdapat kesenjangan yang sangat besar antara apa yang sedang mereka cari, mereka dapatkan melalui pendidikan atau naluri alamiah mereka sebagai individu mandiri. Contoh-contoh yang jelas terlihat oleh mereka adalah konflik-konflik tidak jelas, baik antara anak yang satu dengan yang lain ataupun konflik yang ada di antara para guru.
Dunia pesinetronan melupakan fungsi mendidik. Karena dalam pendidikan, ada nilai yang disampaikan selain pengetahuan. Dunia pendidikan semakin memiliki gap yang besar dengan kondisi sosial masyarakat. Peran guru seakan dilecehkan. Padahal guru adalah sosok yang di mata siswa menjadi teladan, menjadi pembimbing dan pendorong agar anak-anaknya mencapai tujuan.
Hal ini akan menjadi masalah sosial karena berkaitan dengan kepentingan orang banyak (bukan kepentingan pemilik modal). Untuk menyelesaikan masalah sosial diperlukan perubahan sosial yang dilakukan secara bersama-sama. Maka tidak ada salahnya jika kita menjalankan gerakan baru untuk siapapun yang ingin menyelamatkan buah yang bahkan akarnya belum kuat mengenggam tanah. Buah apalagi itu kalau bukan anak-anak, adik-adik atau saudara-saudara kita yang masih belum matang untuk menemukan diri mereka.
(by adekku, cizkah)
